×
Review

DSLR atau Mirrorless, Mana Yang Lebih Baik?

Kembali1 of 3

Kamera Digital SLR (DSLR) memiliki kekurangan dan keterbatasan yang melekat pada desainnya, sehingga ini ada hubungannya dengan fakta bahwa pada awalnya kamera DSLR dikembangkan untuk format film 35mm. Buktinya hingga saat ini DSLR masih diperlakukan seperti kamera film 35mm dan menggunakan mekanik body yang sama.

Selain pengembangan sensor, media digital film terbaru, LCD belakang, dan konponen elektrik lainnya, kamera DSLR masih menggunakan komponen yang sama dengan kemera SLR dan itu tidak berubah. Seperti menggunakan mekanisme mirror, pentaprisma dan viewfinder yang sama, serta sistem deteksi fase yang sama pula untuk operasi autofocus. Sementara itu memang ada kemajuan teknologi yang diberlakukan pada kamera saat ini seperti fitur editing instan dalam kamera, HDR, GPS, WiFi, dll.

Hingga hari ini DSLR masih tertinggal untuk beberapa komponen. Pertama: ukuran mirror dalam DSLR harus sama dengan ukuran sensor dan itu membutuhknan banyak ruang. Kedua: pentaprisma sebagai media yang ikut mengantarkan refleksi dari mirror ke viewfinder juga harus sesuai dengan ukuran mirror, dan ini yang membuat desain bagian atas DSLR memiliki benjolan dan menjadikannya terlihat besar.

Kekurangan Kamera DSLR

Karena DSLR bergantung pada mekanisme mirror yang melihat adegan “melalui lensa”, sehingga kamera DSLR ini memiliki kekurangan sebagai berikut:

1. Ukuran dan Bentuk: cara kerja mirror dalam merefleksi membutuhkan ruang untuk mirror itu sendiri dan juga untuk pentaprisma, yang berarti bahwa DSLR akan selalu memiliki desain body yang “tetap sama” yaitu lebih besar dan memiliki benjolan di bagian atasnya seperti yang saya katakan sebelumnya. Ini juga berarti bahwa letak viewfinder harus tetap berada di tempat yang sama pada setiap desain DSLR. Dan inilah alasannya mengapa kebanyakan DSLR memiliki penampilan eksterior yang agak mirip pada umumnya.

2. Berat Kamera: ukuran besar dan massal juga diterjemahkan menjadi lebih berat. Kebanyakan DSLR entry-level (kelas pemula) memiliki body dan komponen internal berbahan plastik agar bobot kamera menjadi lebih ringan. Tapi karena letak mirror dan pentaprisma dalam kamera yang banyak membutuhkan ruang sehingga ada beberapa ruang tambahan yang perlu ditutupi. Selain itu, alangkah tidak bijaksana bila menutupi keseluruan body dengan lapisan yang sangat tipis dari bahan plastik, hanya karena ingin membuat kamera tampak lebih kecil dan ringan, sehingga beberapa orang menganggap bahwa ide dasar desain DSLR ini terlalu “kasar”. Selain itu juga, lensa DSLR umumnya lumayan besar dan berat (apalagi untuk kamera format film 35mm / full-frame), sehingga jika memang ada body DSLR yang ringan akan mengalami masalah keseimbangan bila dipasangi lensa besar yang berbobot berat.

3. Desain Mirror dan Shutter: setiap kali kamera mengambil gambar maka mirror akan bergerak ke atas (lock-up) agar sensor bisa merekam adegan dan cahaya bisa masuk lansung menuju ke sensor. Akan tetapi hal ini menyebabkan beberapa masalah antara lain:

  • Berisik: apakah Anda sering mendengar bunyi mesin dalam kamera ketika memotret? Suara paling terdengar dari kamera itu berasal dari mirror yang sedang bekerja. Dan itu paling bising dibandingkan saat shutter atau rana bekerja. Meskipun produsen mempunyai cara-cara kreatif memproduksi kamera yang tidak terlalu berisik dengan memperlambat gerakan mirror (seperti Nikon “Quiet”) namun tetap saja masih terdengar bising.
  • Mengantarkan Debu: karena cara kerja mirror yang naik dan turun seperti mengibas, akan membawa udara yang berpotensi mendorong debu masuk ke bagian depan sensor. Ya, karena posisi mirror berada di depan sensor. Dan beberapa fotografer membuktikan dengan mengambil beberapa tembakan dengan mirroless yang berbeda, hasilnya debu yang masuk lebih sedikit ketimbang saat menggunakan DSLR.
  • Biaya Produksi dan Perawatan: mekanisme mirror yang kompleks pada DSLR dan terdiri dari banyaknya bagian-bagian yang berbeda. Oleh sebab itu, sangat mahal untuk membangun dan melakukan service apabila kamera mengalami masalah. Pembongkaran DSLR dan mengganti perangkat internal terkadang juga membutuhkan waktu yang lama.

4. Mirror Sekunder dan Akurasi Deteksi Fase: selain mirror primer (yang saya sebutkan di atas), DSLR juga memiliki mirror sekunder yang dibutuhkan oleh sistem deteksi fase dan letaknya terpisah dari mirror primer. Singkatnya bahwa cahaya yang mencapai mirror primer nantinya akan berakhir di mirror sekunder, dan setiap cahaya yang lulus masuk ke sensor deteksi fase akan diterima oleh mirror sekunder. Hanya saja masalah pada mirror sekunder ini bahwa posisinya harus ditempatkan pada sudut dan jarak yang sempurna agar deteksi fase bekerja dengan akurat. Jika ada sedikit penyimpangan maka dapat menyebabkan terjadinya missed focus (yang sering disebut “miss” atau kehilangan fokus). Jadi, sensor deteksi fase dan mirror sekunder harus sejajar. Bila tidak, beberapa poin autofocus mungkin akan akurat sementara beberapa lainnya terus mengalami miss fokus.

5. Deteksi Fase dan Kalibrasi Lensa: masalah sistem deteksi fase pada DSLR tidak hanya terletak pada masalah kesejajaran posisi mirror sekunder, tetapi juga mengharuskan lensa yang akan dikalibrasi dengan benar. Ini menjadi perbandingan antara dua cara, pertama: fokus yang tepat mengharuskan mirror sekunder berada di posisi yang sempurna dan sejajar dengan sensor deteksi fase (seperti yang dijelaskan di atas). Kedua: membutuhkan lensa dikalibrasi dengan benar untuk body kamera. Ketika DSLR yang kita miliki memiliki masalah akurasi autofocus terhadap lensa maka untuk perbaikan biasanya kita akan mengirim gear ke service center resmi. Sangat sering, para teknisi akan meminta lensa yang digunakan untuk dikirim bersama-sama dengan body kamera. Jika Anda bertanya-tanya mengapa lensa harus dikirim juga? Sekarang Anda sudah tahu jawabannya. Dalam kasus ini, teknisi akan mengkalibrasi baik kamera maupun lensa untuk menyelesaikan perbedaan diantara keduanya.

6. Harga: meskipun para produsen mendapatkan cara yang jauh lebih efisien selama bertahun-tahun dalam memproduksi DSLR, namun perakitan mekanisme mirror bukanlah tugas yang mudah. Banyak komponen yang bergerak yang berarti itu sistem perakitan presisi tinggi. Dalam produksinya juga membutuhkan pelumasan di daerah di mana komponen logam bergesekan satu sama lain. Itu semua dapat mingkatkan biaya produksi. Dan tidak berhenti di situ saja, jika ada yang tidak beres dengan mekanisme mirror, pihak produsen harus memperbaiki atau bahkan mengganti produk yang gagal.

Kembali1 of 3

Kelasfotografi.com - Tutorial fotografi, tips trik, olah digital, review kamera dan lensa, inspirasi, dan info menarik lainnya. Terima kasih telah menjadi pemirsa kami.